SISI UNIK ANAK INDONESIA

Lany (bukan nama asli), remaja tanggung, memutuskan berhenti sekolah. Pasalnya, mereka tidak mendapat tempat dimanapun bersekolah. Ketika SMP, hanya bertahan beberapa bulan, lalu dikeluarkan oleh sekolah. Kemudian masuk pesantren, juga hanya kurang dari tiga bulan, kemudian dikeluarkan lagi. Kini ia menjadi pemuda nganggur, setiap hari nongkrong, merokok dan bikin onar dimanapun berada dengan tiada hentinya.

Pernah, tetangganya sedang mempunyai hajat pernikahan, mengundang banyak tamu dari berbagai tempat. Saat tamu sedang menikmati hidangan dan mendengarkan lagu dari orgen tunggal, sekitar pkl 19.00 tiba-tiba semua lampu padam. Seluruh tamu, panitia dan keluarga kelabakan. Cukup lama mencari penyebab kematian listrik. Kemudian datang anak kecil menginformasikan, Lany telah menurunkan tombol yang berada dibelakang tenda.

Pernah juga ia membuat marah tetangga dengan tingkahnya yang merusak dubur ayam tetangganya, sebab ia menusuk dubur ayam peliharaan hingga berdarah dan lumpuh. Belum lagi, kebiasaan mengganggu anak perempuan sebayanya. Akibat kenakalanya ia pernah dipukul seorang bapak sampai benjol, karena ketiga putrinya berulang kali diganggunya. Walau sudah membuat onar berulang, ia tak pernah merasa bersala. Mengapa demikian ?

Ternyata, Lany menjadi seperti itu, tidak berdiri sendiri. Banyak faktor yang mendukung Lany gemar iseng dan merusa. Ia terlahir dari seorang ibu, dan ayahnya seorang pecandu narkoba. Karena over dosis, sang ayah meninggal saat Lany masih bayi. Sang ibu tak sanggup merawat bayi anak semata wayangnyaitu. Kemudian ibunda menyerahkan kepada Mulyono (buakan nama asli pula) saudaranya. Semua anak Mulyono tumbuh normal, sehat dan berakhlak baik. Tapi malang, Lany tumbuh menjadi anak yang kurang menguntungkan.

Masih banyak Lany lain yang tumbuh kurang menguntungkan. Ia putus sekolah menjadi pecandu narkoba, anak jalanan, pengemis  dan berbagai perilaku hidup tak sehat. Ini sebagai wajah anak Indonesia yang kurang beruntung. Ia akan berkontribusi mewarisi masa depan anak indonesia yang berwajah suram.

Selain itu, masih banyak masalah yang menyertai tumbuh kembangnya anak indonesia. Mulai dari masalah gizi, pendidikan, akhlaq dan masih banyak masalah lain yang menyertainya. Khusus masalah gizi, menimbulkan balita tumbuh berbadan kurus, berat badan kurang, gemuk , pendek dll.

@FaktanyaAdalah Menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2010, secara nasional prevalensi balita kurang 17,9 % yg terdiri dari 4,9% gizi buruk dan 13,0% gizi kurang. Masih ada 18 provinsi dengan prevalesi di atas nasional, sedang yang tertinggi 30,5 % untuk provinsi NTB.

Keseluruhan masalah gizi pada balita akan sangat mempengaruhi pertumbuhan pada masa anak-anak dan remaja. Baik dari segi kesehatan, intelektual, sosial dan moral. Masalah gizi juga dapat menjadi mata rantai problematika anak mulai dari ekonomi pendidikan dan kesehatan.

Orang tua yang miskin akan melahirkan generasi yang miskin, sakitsakitan dan berpendidikan rendah. Bila miskin, bodoh dan tidak taat pada agama cenderung seperti Lany. Jadi masalah anak memang menjadi problem bersama masalah kesehatan belaka. 

Jadi seperti lingkarang setan. Rangkaian masalah bermula dari orang tua miskin dan bodoh. Kemudian mengandung anak dengan kurang gizi, lahir kurang gizi dan tumbuh menjadi anak kurang gizi pula. Setelah mereka dewasa dan melahirkan generasi yang sama pula, apabila tidak ada perbaikan pada fase berikutnya. Untuk itu harus ada upaya untuk memutus rantai masalah dengan memperbaki gizi, kesehatan, ekonomi dan pendidikan serta moralitasnya.


cuplikan @Mediakom


Posting Komentar